Monday 28 March 2016

TEORI & METODOLOGI DALAM SEJARAH





A. Arti Metodologi dan Teori dalam Sejarah

     Penulisan sejarah modern yang dimulai pada tahun 1957 telah menuntut para ahli sejarah untuk senantiasa mengikuti perkembangan ilmu-ilmu sosial . Karena sejarah dengan pendekatan ilmu sosial lebih mampu menganalisis gejala historis yang sangat komplek. Begitu kompleknya peristiwa masa lalu maka dalam melakukan analisis pengkaji memerlukan alat, baik metode, metodologi maupun teori.

     Metodologi sungguh berbeda dengan metode. Fritz Mchlup seorang pakar ilmu ekonomi dalam bukunya metodology of Eco nomics and Other Social Sciences menyatakan " The study of principles that guide student of any field of knowledge, and especially of any branch of higherlearning (science) (Fritz Machlup 1978 : 55). 

     Sejarawan Renier berpendapat bahwa metodologi adalah sama dengan filsafat sejarah formal yaitu, meneliti logika dan epistimologi sejarah sebagai disiplin ilmu. (G.J. Reiner, 1956:84). Filsafat sejarah yang formal ini menurut W.H. Walsh dinamakan filsafat sejarah kritis dan di dalamnya dibahas empat masalah yaitu, (1) Sejarah dan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, (2), kebenaran dan fakta dalam sejarah (3) objektifitas sejarah (4) Eksplanasi dalam sejarah (W.H. Walsh, 1967 :15)

       Dalam sebuah buku yang cukup menarik karya F.R. Ankersmit mengemukakan antara lain mengenai filsafat sejarah kriti, yang di dalamnya juga ahateori pengetahuan atau epistimologi sejarah. Judul asli buku ini adalah Denken Over Geschiedenis : Een Overzicht Von Modeme geschiedfilosfische Opvttingen, 1984, yang kemudian diterjemahkan oleh Pater Dick Hartoko dengan judul "Refleksi tentang Sejarah : Pendapat Modern tentang sejarah" (Gramedia 1987)

      Berlainan dengan metodologi sejarah, maka metode sejarah sebagaimana yang dikemukakan oleh Gilbert J. Garraghan adalah seperangkat azas dan kaidah yang sistematis yang digubah untuk membantu secara efektif mengumpulkan sumber-sumber, menilainya secara kritis dan menyajikan suatu sintesis hasil yang dicapai, pada umumnya dalam bentuk tertulis ( Gilbert J. Garraghan, 1984). Buku mengenai metode sejarah yang terkenal di Indonesia adalah karya Louis Gottchlalk, Unstanding of History yang sudah diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto dengan judul "Mengerti Sejarah"

     Meskipun metodologi mempunyai metode, tetapi metodologi bukanlah metode, dan bukan pula seperangkat metode, dan bukan pula diskripsi tentang metode-metode. Dengan demikian metode adalah teknik riset atau alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, sedangkan metodologi adalah falsafat mengenai teknik riset atau aturan tertentu, prosedur intelektual dalam sub komunitas ilmiah termasuk di dalamnya pembentukan konsep-konsep, memformulasikan hipotesis, dan menguji teori.

        Jika metodologi  mempunyai metode, maka metodologi juga berkaitan erat dengan masalah teori. Teori dalam displin sejarah juga seringkali disebut kerangka referensi atau skema referensi. Kerangka teori atau  kerangka referensi merupakan perangkat kaedah yang memandu sejarawan untuk menyelidiki masalah yang akan diteliti, dalam menyusun bahan-bahan yang telah diperolehnya dari sumber-sumber, dan juga mengevaluasi penemuannya (SSRC, 1954 : 125)

      "Kerangka Referensi, aliran pemikiran, adalah konfigurasi yang sangat umum yang didalamnya biasanya dikelompokkan sebagian besar wawasan-wawasan teorotis yang relevan dalam ilmu-ilmu sosial. Fungsi teori daisiplin sejarah sama dengan yang terdapat dalm ilmu-ilmu lain, yaitu untuk mengidentifikasi masalah yang hendak diteliti, menyusun katagori-katagori untuk mengorganisasi hipotesis yang melalnya beberapaam interpretasi data dapat diuji. Teori tidak dapat memberikan jawaban pada peneliti, akan tetapi teori dapat membekali peneliti dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan terhadap fenomena yang hendak diteliti.   

      Jika seorang sejarawan mengemukakan teorinya secara ekplisit dalam penelitiannya maka tidaklah sukar bagi kita untuk menyimak keseluruhan teori yang dipakainya. Kita dapat melihat apakah apakah teori itu dapat dibuktikan dalam kajianya ataukah ia hanya dapat membuktikan sebagaianya saja. Begitu pentingnya konsep dan teori ilmu-ilmu sosial bagi sejarawan, maka maka para sejarawan harus mengikuti pertengkaran yang terjadi diantara para pakar ilmu-ilmu sosial yang bukan hanya percekcokan mengenai masalah terminologi, tetapi lebih dalam lagi yakni yang menyangkut konflik -konflik mendasar mengenai sifat dasar fenomena sosial. Jadi sejarawan yang meminjam konsep-konsep dan teori-teori ilmu sosial mau tidak mau harus menerima perselisihan-perselisihan yang berlaku diantara pakar ilmu-ilmu sosial.

      Apabila sejarawan dianjurkan menggunakan teori-teori ilmu sosial, bukan berarti ingin menjadikan ilmu sejarah terjebak dalam kerangka pemikiran ilmu-ilmu sosial, tetapi hanya ingin menjdikan sejarah sebagai ilmu yang mampu menganalisis persoalan-persoalan sosial dan budaya, karena keberadaan sebagai manusia di masa lalu berada dalam komunitas sosial dan budaya.
     
B. Sekilas tentang Metode Sejarah

     Sebagaimana disebutkan diatas bahwa metode sejarah adalah seperangkat kaidah yang membantu peneliti untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Dengan demikian metode sejarah adalah membahas tentang penelitian sumber-sumber sejarah, kritik sumber, sintesis sampai kepada penyajian hasil penelitian. Metode sejarah merupkan langkah penting, karena tanpa metode penulisan sejarah tidak akan efektif. Dengan mengikuti aturan dan metode sejarah yang benar akan menjamin hasil yang bisa dipertanggung jawabkan.
     Metode dalam penelitian sejarah akan membahas tentang penelitian sumber, kritik sumber, sintesis sampai kepada penyajian hasil penelitian. Semua kegiatan atau proses harus mengikuti metode dan kegiatan atau proses harus mengikuti metode dan aturan yang benar. Dengan demikian metode sejarah sebagaimana disebutkan di atas adalah seperangkat aturan dan prinsip-prinsip yang sistimatis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan menyajikan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tulisan. Adapun langkah-langkah praktis yang harus dilalui oleh peneliti sejarah berkaitan dengan penerapan metode sejarah adalah sebagai berikut :

       a) Heuristik, atau pengumpulan sumber yaitu suatu proses yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan sumber-sumber, data-data, atau jejak-jejak sejarah. sejarah tanpa sumber maka tidak bisa bicara. Maka sumber dalam penelitian sejarah merupakan hal yang paling utama yang akan menentukan bagaimana aktualitas masa lalu manusia bisa dipahami oleh orang lain.

       b) Kritik sumber, adalah suatu kegiatan untuk meneliti sumber-sumber yang diperoleh agar memperoleh kejelasan  apakah sumber tersebut autentik atau tidak. Pada proses ini dalam metode sejarah biasa disebut dengan istilah kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern adalah suatu upaya yang dilakukan oleh sejarawan untuk melihat apakah sumber tersebut cukup kredibel atau tidak, sedangkan kritik ektern adalah kegiatan sejarawan untuk melihat apakah sumber yang didapatkan autentik ataukah tidak.

         c) Interpretasi atau penafsiran, adalah suatu upaya sejarawan untuk melihat kembali tentang sumber-sumber yang didapatkan telah diuji autentisitasnya dan terdapat saling hubungan antara satu dan yang lain. Dengan demikian sejarawan memberikan penafsiran terhadap sumber yang telah didapatkan.


             d) Historiografi, adalah menyusun atau merekonstruksi fakta-fakta yang telah tersusun yang didapatkan dari penafsiran sejarawan terhadap sumber-sumber sejarah dalam bentuk tertulis. Dalam penulisan sejarah ketiga kegiatan yang dimulai dari heuristik, kritik, analisis belum tentu menjamin keberhasilan dalam penulisan sejarah. oleh karena itu harus dibarengi oleh latihan-latihan yang intensif

Sumber : drssayuti

No comments:

Post a Comment